blog mince manohara

S'laMat daTang di bLog Q

bLog yaNg aGak cAbul taPi asYik.....

Showing posts with label ASTRONOMI. Show all posts
Showing posts with label ASTRONOMI. Show all posts

Monday, September 7, 2009

MenGarunGi imPian menJelaJah taTa surYa

Semenjak zaman dahulu kala, manusia sudah terpesona dengan keindahan langit malam, Bulan dan Matahari. Tak ada manusia yang tidak terpukau ketika menemukan dirinya berada di bawah bentangan lautan bintang. Di masa lalu, manusia terpukau dengan keindahan dan keajaiban beberapa bintang yang sangat terang, yang bergerak di antara bintang-bintang yang tetap di langit. Menurut orang Yunani, bintang terang itu adalah bintang pengembara atau yang disebutnya planet.
Motase Tata Surya. Kredit : NASA
Montase Tata Surya. Kredit : NASA
Tak hanya itu, catatan dan gambar yang ditinggalkan dalam manuskrip dari masa lalu seperti Cina, Yunani dan Anazasis menunjukan ketertarikan manusia akan fenomena alam seperti komet, dan gerhana Matahari.
Berbagai pemikiran tentang langit dan segala objek yang ada didalamnya, mengalami revolusi besar di abad ke-16 dan 17 saat Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton menghadirkan konsep dan dinamika Tata Surya , termasuk ukuran dan massa relatif obyek yang ada dan gaya yang membuat mereka mengorbit satu sama lainnya. Sebuah paradigma baru yang mengguncang dunia di masa itu namun membawa sebuah era baru bagi dunia sains, sebuah era astronomi modern kemudian hadir dan membawa manusia pada berbagai penemuan.
Kemajuan bertahap terus terjadi selama beberapa abad, namun ini tak berarti kita berheti sampai disini. Sebuah revolusi baru masih menanti kita di luar sana. Sebuah revolusi menuju zaman ruang angkasa. Bulan oktober 1959, pesawat ruang angkasa Luna 3 milik Soviet kembali membawa citra pertama dari wajah bulan yang ada di balik Bumi. Wajah yang senantiasa tersembunyi dari manusia. Sejak saat itu sebuah era explorasi keplanetan pun dimulai.
Selama lebih dari 8 dekade, pesawat ruang angkasa telah berhasil menyambangi kedelapan planet yang ada di Tata Surya dan membawa pulang data terkait si planet, cincinnya atau tentang satelit yang dimiliki planet. Citra yang dibawa pulang para pesawat penjelajah menunjukan detil obyek yang tak kan bisa dilihat dan diduga oleh pengamatan landas bumi. Spektrum yang terukur dari panjang gelombang ultraungu sampai inframerah mengungkap keberadaan gas baru dan keadaan padatan yang ada di berbagai planet dan satelit, sementara detektor radio dan megnetometer justru berhasil mengekplorasi medan magnetik raksasa yang menyelimuti planet.
Bagi manusia di di abad-abad lampau, planet dan bintang hanya bisa terekam visual dari apa yang mereka lihat di malam hari. Gambaran utuh Tata Surya sangat sulit diimajinasikan. Karena bagi penglihatan manusia, langit dan isinya hanya bisa dilihat dari sudut pandang di bumi yang justru memberikan gambaran yang terdistorsi. Namun perkembangan astronomi modern telah membawa kita pada era baru mengenal Tata Surya.
Sang Surya yang selama ini hanya bisa dilihat dari Bumi sebagai sumber panas yang menerangi manusia di kala siang ternyata mengisi 99,8% massa di Tata Surya. Bahkan Tata Surya itu bisa dikatakan terdiri dari Matahari dan pecahan ataupun serpihan batuan disertai gas dan debu. Tapi bukan berarti serpihan-serpihan itu tidak berguna. Serpihan yang membentuk planet ini (serpihan karena dia jauh lebih kecil dari matahari. Bahkan Jupiter pun ukurannya jauh lebih kecil dari Matahari –red) bukannya tidak berarti. Di dalam gerak orbit merekalah terletak 98% momentum sudut Tata Surya.
Sang Surya tak lagi jadi misteri dalam dongeng menakutkan bagi anak-anak ketika gerhana Matahari terjadi. Gerhana pada akhirnya menjadi sebuah fenomena alam yang menjembatani kekaguman akan keindahan semesta dengan pendidikan astronomi kepada masyarakat. Berbagai misi diluncurkan untuk mempelajari Matahari dan angin Matahari.  Dan pengetahuan tentang Matahari tak lagi sebatas bola panas yang menyinari Bumi. Matahari kini diketahui memiliki tipe yang berbeda jauh dari planet-planet. Ia adalah bola plasma yang ditenagai oleh reaksi fusi nuklir di intinya. Dan kita juga jadi mengetahui serpihan yang mengelilingi Matahari itu ada yang berbentuk raksasa namun ada juga yang kecil dan berada jauh dari sang bintang.
Kini, ekstrimnya cuaca di Merkurius bukanlah hal yang aneh. Kecantikan Venus ternyata penuh balutan gas rumah kaca dan tak mampu mempertahankan kehidupan disana. Mars telah menjadi rumah baru untuk eksplorasi kehidupan lain sedangkan Jupiter, si planet raksasa ini tak hanya dikenal karena keindahannya di langit malam. Ia juga diketahui memiliki cincin tipis dan kaya materi. Tak hanya itu Io salah satu satelitnya, diduga memiliki air yang menjadi salah satu komponen yang memungkinkan kehidupan itu ada.
Saturnus, si planet bercincin ini ternyata punya banyak hal di dalam cincinnya yang bisa dieksplorasi dan Titan satelit yang setia mengikutnya memiliki kemiripan dengan Bumi purba. Tipe struktur yang tak diduga berhasil juga ditemukan di Saturnus membawa manusia pada pengetahuan baru akan kelas yang ada di cincin dan sistem cincin pada sebuah objek yang pernah terlihat.
Uranus dan Neptunus juga sudah bukan misteri bagi manusia. Citra cincin Uranus yang berhasil diambil memngunkap banyak misteri planet dingin tersebut. Bahkan si kecil Pluto kini tak lagi sendiri. Luasnya bagian terluar Tata Surya walau masih belum terjelajahi sepenuhnya telah memberikan teman bagi Pluto. Ada Sedna, Eris, Quoar, dan berbagai benda kecil lainnya yang tergabung dalam Planet Katai dan juga Sabuk Kuiper..
Asteroid, meteor, dan komet tak lagi menyembunyikan diri dalam balutan misteri menakutkan. Di antaranya adalah kumpulan materi yang gagal membentuk planet atau materi hasil tabrakan antar objek yang terperangkap di antara dua planet raksasa atau yang justru terlempar dan mengembara di Tata Surya.
Di antara mereka, ada dua komet dan empat asteroid yang telah berhasil dijelajahi pesawat ruang angkasa. Pengiriman misi ke komet atau asteroid membuka kesempatan pada manusia untuk mengenali objek-objek ini dari dekat.
Pada akhirnya planet dan satelit-satelitnya jadi semakin dikenal sebagai objek-objek individual yang ada di angkasa. Dan perbedaan besar dalam hal atmosfer, medan magnet dan permukaan pada planet dan satelit justru menjadi kejutan manis yang tak dapat dibayangkan para peneliti paling imajinatif sekalipun.
Bahkan di masa ini Tata Surya tak lagi satu-satunya sistem keplanetan di alam semesta maha luas ini. Ada ratusan planet di luar Tata Surya yang juga tengah mengorbit bintangnya masing-masing. Bahkan ada di antara mereka yang mirip sistem di Tata Surya, sebut saja 47 Ursae Majoris yang mirip sistem Matahari-Jupiter-Saturnus di Tata Surya atau sistem di Epsilon Eridani yang memiliki sabuk seperti sabuk asteroid, sabuk cincin Saturnus dan sabuk Kuiper. Penemuan planet-planet ini tak lagi hanya dengan pendeteksian dengan metode tak langsung seperti metode transit. Para astronom dengan pengamatan landas angkasa berhasil mengambil citra sebuah planet pada bintang Fomalhault salah satu permata di langit selatan.
Berbagai penemuan memang telah menyingkap sejumlah misteri. Namun di tengah luasnya alam semesta, masih tersimpan  misteri lainnya di antara bintang-bintang. Sejarah perkembangan astronomi dalam pengamatan sistem-sistem keplanetan memang telah membawa manusia pada era ruang angkasa dan memberi harapan yang mengisi mimpi kehidupan lain di luar Bumi maupun impian untuk berkoloni di planet lain. Toh.. mimpi penjelajahan sudah berhasil dilakukan dalam berbagai misi tanpa awak dan misi berawak telah berhasil mengirimkan manusia ke luar Bumi bahkan menginjakan kakinya di Bulan.

Sumber : langitselatan.com 

PotrEt asTroNom peRemPuan dAri maSa ke MaSa

Astronomi memang telah melangkah jauh dibanding berabad-abad lampau ketika para matematikawan maupun fisikawan dan astronom memulai perjalanan ini dari pengamatan sederhana dan perhitungan-perhitungan sederhana yang justru membuka jalan bagi pengetahuan maha dasyat tentang alam semesta. Ruang maha luas yang tak bisa disentuh oleh manusia dan tetap menjadi misteri bagi peradaban di Bumi.
Maria Mitchell, astronom wanita pertama di Amerika yang menemukan komet. Kredit : Barkeley
Maria Mitchell, astronom wanita pertama di Amerika yang menemukan komet. Kredit : Barkeley
Di antara mereka, terdapat juga banyak wanita yang ikut ambil bagian dalam peletakkan dasar itu. Perempuan-perempuan yang bukan hanya mampu menghasilkan karya di bidang astronomi lewat pengamatan panjang dan perhitungan yang tekun, namun sekaligus menjadi tonggak sejarah kebangunan astronom wanita. Mereka adalah orang-orang yang bertarung dengan pandangan masyarakat di masanya akan perempuan dan pendidikan tinggi. Masa yang pernah menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua dan yang tidak bersahabat dalam memberi kesempatan pendidikan tinggi maupun karir bagi perempuan.
Sexism atau pemisahan gender kala itu memang terjadi di mana-mana. Namun sejarah juga memperlihatkan di tengah kondisi seperti itu, lahir ilmuwan-ilmuwan perempuan tangguh yang berkontribusi dalam membangun astronomi sebagai salah satu bidang keilmuan.
Caroline Herschel. Kredit : Nature
Caroline Herschel, Astronom perempuan pertama yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : Nature
Di antara astronom perempuan yang tersebut ada Caroline Herschel (16 Maret 1750 – 9 Januari 1848), astronom asal Jerman yang menemukan beberapa komet dan menjadi asisten bagi sang kakak Sir William Herschel dalam pekerjaan astronominya. Walaupun pada awalnya ia bertindak selaku asisten, namun ia kemudian  melakukan pengamatan sendiri dan berhasil menemukan objek-objek langit memukau seperti M110 (NGC 205) pasangan galaksi Andromeda, 8 buah komet, dan menemukan kembali komet Encke di tahun 1795. Caroline kemudian diberi penghargaan penghasilan tahunan sebesar 50 £ oleh George III untuk pekerjaannya sebagai asisten William Herschel. Caroline juga membantu sang kakak dalam menyusun katalog bintang yang diterbitkan tahun 1798.
Setelah kematian William, Caroline meneruskan proses verifikasi dan konfirmasi atas penemuan Wiliam dan membuat katalog nebula untuk membantu keponakannya John Herschel dalam pekerjaan astronominya. Ia kemudian dianugerahi Medali Emas untuk pekerjaannya oleh Royal Astronomical Society pada tahun 1828. Dan tak ada perempuan lainnya yang diberi penghargaan ini sampai tahun 1996 ketika Vera Rubin diberi penghargaan yang sama.
Astronom perempuan lainnya adalah Henrietta Swan Leavitt (4 Juli 1868 – 12 Desember 1921) lulusan Redcliffe College yang kemudian bekerja di Harvard College Observatory dengan tugas menghitung citra pada plat fotografi. Pekerjaan inilah yang mebawa Henrietta menemukan satu hal penting yang menjadi dasar dalam perhitungan jarak di masa depan dan menjadi dasar bagi pekerjaan Edwin Hubble.
Penemuan Henrietta itu adalah hubungan Periode-Luminositas Cepheid sebagai alat penentu jarak. Penemuan yang membuka mata manusia akan kebesaran alam semesta. Dari penemuannya ini, para astronom bisa mengukur jarak cepheid di galaksi lain dan bisa mengetahui jarak galaksi tersebut.  Cepheid merupakan bukti penting kalau ada galaksi lain yang berada jauh di luar Bima Sakti. Penemuan Hanrietta Leavitt pada akhirnya mengubah teori astronomi modern. Pencapaian yang sangat penting dan luar biasa mengingat ia hampir tak pernah mendapatkan kredit selama hidupnya. Penghargaan padanya diberikan dengan memberi nama Leavitt pada asteroid dan salah satu kawah di Bulan. Peghargaan lainnya juga diberikan padanya oleh AAS dengan menemukan hubungan periode-luminositas yang ia temukan dengan namanya yakni Leavitt Period-Luminosity relation.
Annie Jump Canon. Kredit : Wikimedia
Annie Jump Canon. Kredit : Wikimedia
Astronom lainnya, Annie J. Canon ( 11 Desember 1863 –  13 April 1941) juga memberikan kontribusi yang sangat penting dalam klasifikasi bintang. Ia membagi bintang dalam beberapa kelas berdasarkan spektrumnya. Kelas spektrum yang ia buat inilah yang menjadi dasar klasifikasi fisis bintang dalam sejarah perkembangan astronomi sampai hari ini. Kelas yang dikenal dengan idiom Oh Be A Fine Girl and Kiss Me (O B A F G K M). Dan saat itu ia bekerja di Harvard dengan bayaran 25 sen sementara sekretaris di Harvard mendapatkan bayaran yang lebih dari itu.
Untuk pekerjaan klasifikasi bintang ini, Annie J Canon sebenarnya membuat klasifikasi yang sederhana dan lebih mudah dipahami dibanding klasifikasi yang telah dibuat sebelumnya oleh Antonia Maury maupun klasifikasi yang diajukan oleh Williamina Flemming, dua astronom wanita lainnya pada masa itu yang juga bekerja dalam mengkatalogkan bintang. Williamina Flemming juga astronom yang menemukan nebula kepala kuda.
Vera Rubin, astronom perempuan kedua yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : Vassar
Vera Rubin, astronom perempuan kedua yang mendapat medali emas dari RAS. Kredit : Vassar
Di masa kini, astronom wanita sudah jauh lebih banyak walaupun masih sedikit dalam jumlah jika dibandingkan dengan astronom pria. Sebut saja Vera Rubin, wanita kedua yang mendapatkan medali emas dari Royal Astronomical Society setelah Caroline Herschel. Ia adalah astronom yang menjadi pioner dalam mempelajari laju rotasi galaksi. Ibu dari 4 anak ini pernah mendaftarkan dirinya ke Princeton untuk melanjutkan studi setelah menamatkan pendidikan sarjananya di Vassar College. Sayangnya pada masa itu, Princeton belum menerima mahasiswa pasca sarjana perempuan untuk menempuh pendidikan. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Cornell University.
Selain Vera Rubin, ada juga Wendy Freedman yang lahir dari keluarga yang mencintai astronomi. Ia merupakan perempuan pertama yang bergabung sebagai staf sains permanen di Carneige Institutions. Ia kemudian menjabat sebagai direktur Carneige Observatory pada tahun 2003. Ketika diberi kesempatan menggunakan teleskop Hubble, Wendy dan timnya kemudian mencari konstanta Hubble yang lebih presisi dengan mengamati galaksi M100. Ia dan timnya berhasil mengidentifikasi 20 Cepheid untuk keperluan penghitungan konstanta Hubble setelah melakukan pengamatan pada 4000 bintang dalam 60 malam. ia juga memimpin timnya untuk membangun teleskop raksasa landas Bumi bernama Giant Magellan yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2018.
Catherine Cesarsky. Mantan Presiden IAU. Kredit : IYA2009
Catherine Cesarsky. Mantan Presiden IAU. Kredit : IYA2009
Dan di sepanjang tahun astronomi 2009 ini, tak pelak ada satu nama yang akan selalu diingat orang. Catherine Cesarsky, mantan Presiden IAU (International Astronomical Union) yang baru saja menyelesaikan masa jabatannya pada bulan Agustus 2009 lalu. Catherine Cesarsky pada awalnya bekerja dalam hal perambatan dan percepatan sinar kosmik dan emisi sinar gamma galaktik. Ia kemudian memimpin perancangan dan pembangunan ISOCAM kamera onboard pada Infrared Space Observatory (ISO) di ESA. Ibu dua anak ini pernah menjadi Direktur ESO (European Southern Observatory) dari tahun 1999 – 2007 dan menjabat sebagai presiden IAU dari tahun 2006-2009.
Di akhir masa jabatannya Catherine Cesarksy memang membawa astronomi turun ke masyarakat melalui pencanangan Tahun Astonomi 2009.  Tahun yang menjadi pergerakkan awal maupun pemicu bagi perkembangan astronomi di masa mendatang dan pembangunan astronomi di negara-negara berkembang. Di antara berbagai program yang dicanangkan dalam tahun astronomi 2009, ada sebuah program yang dikhususkan untuk memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan dan meningkatkan minat kaum perempuan untuk mendalami sains dan astronomi. Program itu adalah She is an Astronomer.
Perempuan masa kini memang telah merambah dunia sains dan menjadi peneliti-peneliti handal yang membangun astronomi di semua sisi. Dan semua itu dimulai berabad-abad lampau oleh astronom-astronom wanita yang telah meletakkan dasar dan perubahan bagi perkembangan astronomi di masa kini.  Dasar itu memang telah diisi oleh bangunan-bangunan kokoh dan megah. Namun di sudut lain dunia ini.. masih ada dasar yang belum dibangun.
Seperti kata Cesarsky dalam pidatonya di penutupan IAU`s XXVII General Assembly 2009 di Brazil, “Poin penting dalam masa kepemimpinan saya adalah persiapan dan peluncuran Tahun Astronomi 2009. Tahun yang sudah berjalan dan sampai saat ini telah melampaui harapan yang dibuat dan menjadi pengalaman yang luar biasa yang tak dapat saya lupakan. Perencanaan baru untuk pengembangan astronomi merupakan kelanjutan untuk IYA2009. Tak bisa dielakkan perencanaan itu hanya bisa mencakup bagian kecil dari aktivitas IAU, namun pekerjaan kita untuk pembangunan dunia adalah hal yang vital.”
Dan pekerjaan serta perjuangan itupun masih akan berlanjut. Bukan hanya untuk membangun astronomi di dunia, namun juga untuk memberi kesempatan lebih banyak pada perempuan untuk terus berkiprah di dunia astronomi dan sains.

Sumber : langitselatan.com / intasberita.com

mince manohara

mince manohara
miyabi

My Blog List